Selasa, 29 September 2020

Jika itu namamu ?



Ku beri tanya pada hamparan ilalang :

Mengapa tetap setia hiasi perbukitan kapur tandus,

Meski kering meranggas tak dijamah hujan ratusan hari ?


Jawab sang alang :

Agar kau terkenang abadi 

Pada lelaki bertelanjang dada

Sehari-hari menantang matahari

Temani ternak merumput, berkilo jalan tanpa alas kaki.


Raganya nampak tangguh,

Seolah tak goyah oleh apapun.

Namun, siapa mampu menerka jiwa ?


Katanya sekali lagi :

Agar tak surut rindumu pada 'Umbu' pemilik mata hitam legam

Membawa tatapan teduh menenangkan.

Berkawan kuda, dengan sebilah parang dipinggang


Parasnya bersahaja penuh pesona,

Memaksa mata tetap lekat memandang.

Namun, siapa lihai membaca hati ?


Pada alang aku mengadu :

Harap dan cemas aku menebak

Jantung lelaki itu mendebarkan nama siapa



Waikabubak, Agustus 2020





*Umbu : nama bisa juga sapaan bagi lelaki di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Jumat, 07 Februari 2020

Rumah, kata ku.

Angin kering berhembus kencang.
Udara panas membakar.

Bukit-bukit batu kapur tandus.

Tanah lapang dan kosong, sesekali ditumbuhi karang dan batu. 

Tumbuhan meranggas, kering, setengah mati.

Kuda dan sapi berkeliaran di padang berumput kerontang tanpa air.

Jalanan sepi. 

Burung-burung kembali ke peraduan pada hutan-hutan kecil di lembah bukit sabana.

Anjing menyalak mengonggong di perkampungan dari atas bukit terjal.

Anak-anak bermain di atas kuburan dengan batu dan budaya megalitikum depan sebuah rumah beratap menjulang ke langit.

Dan di kolong rumah babi tertidur, pulas. menunggu waktunya makan.

Seorang ibu yang menenun di teras rumah berlantai bambu dan berdinding kayu serta  alang sebagai atap. 

Ditemani anak gadis menganyam bakul untuk mengisi beras.

Sedang di padang kerbau, kuda dan sapi diawasi diselingi canda dan permainan bocah-bocah lelaki. 

Lalu, si kepala keluarga berdiskusi dengan alam tentang makanan mereka hari itu.

Oh 
I'm home.